Menu ✖

Mode Gelap
Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi

ADVERTORIAL · 28 Jun 2026 17:59 WIB

Buka Hari Musik Dunia 2026, Pemprov Kalsel Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Seni Inklusif


 Buka Hari Musik Dunia 2026, Pemprov Kalsel Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Seni Inklusif Perbesar

Ricek.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem seni dan budaya melalui peringatan Hari Musik Dunia 2026 yang digelar di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin pada Sabtu malam (27/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Muara: Tempat Segala Arus Bertemu” ini secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Rusma Khazairin, yang mewakili Gubernur Kalsel.

Tema tersebut diangkat sebagai simbol pertemuan berbagai budaya, tradisi, dan kreativitas yang menjadi kekuatan dalam membangun identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Banua.

Rusma menyampaikan apresiasi dari Gubernur Kalsel kepada seluruh panitia, komunitas, seniman, dan pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan Hari Musik Dunia 2026. Menurutnya, musik merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan keberagaman.

“Tema Muara mencerminkan karakter Kalimantan Selatan, tempat berbagai budaya, tradisi, dan kreativitas bertemu, saling menguatkan, serta melahirkan karya yang tetap berakar pada jati diri Banua,” ujarnya.

Rusma menilai konsep penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang edukasi, dialog, regenerasi, serta penghormatan kepada para pelaku seni. Menurutnya, pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Sejalan dengan visi Pemprov Kalsel, “Bekerja Bersama, Merangkul Semua,” Rusma menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memfasilitasi ekosistem seni yang inklusif dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal masyarakat Banjar.

“Semangat tersebut sejalan dengan falsafah Banjar, Banyak sama kibit, sadikit sama culit, yang mengajarkan pentingnya gotong royong dan saling menguatkan dalam memajukan kebudayaan Banua,” katanya.

Rusma berharap peringatan Hari Musik Dunia mampu melahirkan lebih banyak ruang kreatif, menjaga kelestarian musik tradisional, serta mendorong musisi lokal agar mampu mengharumkan nama Kalsel di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Abdul Rahim, menegaskan Hari Musik Dunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat ruang perjumpaan, kolaborasi, dan apresiasi terhadap perjalanan musik di Kalsel. Menurutnya, tema “Muara” memiliki makna yang sangat relevan dengan karakter daerah yang dikenal sebagai wilayah sungai.

“Sebagaimana sungai-sungai yang mengalir menuju satu muara, musik juga tumbuh dari berbagai latar belakang, tradisi, generasi, dan ekspresi yang berbeda. Semuanya bertemu dalam satu ruang yang saling menguatkan,” ungkapnya.

Abdul Rahim menambahkan melalui momentum Hari Musik Dunia, keberagaman dapat bertransformasi menjadi kekuatan, sementara kolaborasi menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan kebudayaan.

Rangkaian Hari Musik Dunia 2026 menghadirkan berbagai program yang komprehensif dan inklusif. Selain menampilkan 19 penampil dari berbagai komunitas musik, kegiatan juga diisi dengan ruang edukasi melalui Lab-Batang Banyu: Pandir Series, penyampaian Pesan Hari Musik Dunia oleh maestro Kuriding Mukhlis Maman, serta Tribute Tokoh Musik Banua sebagai bentuk penghormatan kepada para pelaku seni yang telah berjasa.

Menurut Abdul Rahim, perpaduan antara pertunjukan musik, ruang pembelajaran, dan dialog antargenerasi menjadi wujud ekosistem kebudayaan yang sehat.

“Inilah bentuk ekosistem kebudayaan yang sehat, ketika panggung pertunjukan berjalan berdampingan dengan ruang pengetahuan dan apresiasi. Sebagai institusi yang memiliki mandat dalam pengembangan seni dan budaya, kami berkomitmen untuk terus menjadi rumah bersama bagi para pelaku seni,” ujarnya.

Abdul Rahim menegaskan ruang kebudayaan harus selalu terbuka bagi siapa pun untuk berkarya, berdiskusi, bereksperimen, dan berkolaborasi agar ekosistem seni terus hidup dan berkembang.

Nilai luhur masyarakat Banjar, Banyak sama kibit, sadikit sama culit, menurutnya menjadi pengingat bahwa membangun peradaban kebudayaan tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus dilandasi semangat gotong royong yang selaras dengan visi Gubernur Kalsel, “Bekerja Bersama, Merangkul Semua.”

Melalui peringatan Hari Musik Dunia 2026, Pemprov Kalsel berharap lahir lebih banyak ruang kreatif bagi para musisi, semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku seni, serta semakin kokohnya ekosistem musik daerah dalam melahirkan karya-karya terbaik dari Banua yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Sumber : MC Kalsel

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Sasirangan Kotabaru Siap Tampil di Fashion Show Nasional

7 Oktober 2026 - 18:41 WIB

Kotabaru Jadi Tuan Rumah, Malam Ramah Tamah Hari Pramuka ke-65 Digelar

7 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Gubernur Kalsel Tinjau Progres Jembatan Pulau Laut

6 Oktober 2026 - 21:18 WIB

HUT TNI ke-81, Kapolres Tanah Laut Beri Kejutan untuk Dandim

6 Oktober 2026 - 18:55 WIB

DPRD Kotabaru Minta PLN Jelaskan Pemadaman Listrik Bergilir

6 Oktober 2026 - 18:45 WIB

DPRD Kotabaru Rekomendasikan Penghitungan Ulang Suara Tidak Sah Pilkades Sampanahan

6 Oktober 2026 - 18:41 WIB

Trending di ADVERTORIAL