Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sumbangkan “Rozak” Jadi Hewan Kurban Di Kabupaten Banjar Curas Bermodus Petugas PLN di Banjarbaru, Pelaku Rampas Gelang Emas Korban Kelangkaan BBM Lumpuhkan Transportasi di Kotabaru, Sopir dan Nelayan Terdampak ABK Jatuh di Perairan Trisakti Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Berakhir Motor Misterius di Pinggir Irigasi, Warga Mentaos Curigai Pria Tenggelam

ARTIKEL · 9 Apr 2025 12:22 WIB

Kolom Kosong Berisi Harapan


 Noorhalis Majid. foto-istimewa Perbesar

Noorhalis Majid. foto-istimewa

Oleh: Noorhalis Majid (Ambin Demokrasi)

KALAU ingin demokrasi sehat, partai-partai harus bersaing menawarkan kadernya yang paling berkualitas untuk diajukan, sehingga warga memiliki banyak alternatif untuk dipilih.

Demokrasi yang sehat, berawal dari partai politik yang sehat pula. Dimana sistem pengkaderan dan pendidikan politik, menjadi dasar membentuk politisi mumpuni.

Bila partai tidak memiliki sistem pengkaderan dan pendidikan politik, alamat mudah dibajak kelompok oligarki, yang dengan kekuatan uang, membeli semua proses yang disangkanya sistem politik.

Kalau ada fenomena, dimana calon arogan membeli hampir semua partai dan tidak menyisakan apapun kecuali kolom kosong, maka indikasi calon tersebut bermaksud melumpuhkan sistem demokrasi dan menutup peluang warga untuk memilih calon lain.

Lantas, apa makna kolom kosong dalam Pilkada? Harus diketahui, kolom kosong itu bukan tanpa makna, bukan pula kesia-siaan. Kolom kosong itu berisi harapan untuk memulihkan demokrasi yang telah dilumpuhkan oligarki.

Kalau kolom kosong menang, maka dia sebuah tamparan bagi partai politik yang menjual murah harga dirinya kepada kelompok berduit. Juga kritik terhadap diabaikannya hak warga untuk mendapat calon alternatif.

Tamparan tersebut semoga menyadarkan partai politik, agar menghidupkan kembali sistem pengkaderan dan pendidikan politik, yang mampu menawarkan banyak pilihan calon-calon berkualitas kepada warga.

Keliru bila mengatakan kolom kosong itu tidak nyata. Karena apabila kolom kosong menang, maka ada kesempatan bagi semuanya untuk berbenah. Kesempatan bagi partai politik bertobat mengembalikan peran dan kiprahnya. Kesempatan bagi penyelenggara memulihkan citranya yang terlanjur hancur karena khilaf menghilangkan hak warga. Dan kesempatan bagi seluruh warga, memilih secara bebas calon yang mampu membawa perbaikan demokrasi.

Soal anggaran Pilkada berulang kali yang menguras puluhan milyar, sebenarnya nilai tersebut tidak seberapa bila dibandingkan dengan demokrasi itu sendiri. Sebab, bila yang terpilih tidak mumpuni, berkonsekuensi pada pengelolaan anggaran, kebijakan dan tata kelola pemerintahan yang nilainya jauh lebih besar, bahkan nilainya ratusan kali dari anggaran Pilkada itu sendiri.

Jangan takut atau alergi dengan kolom kosong, karena pada kolom kosong sesungguhnya berisi harapan. (nm)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi

1 April 2026 - 09:46 WIB

IdulFitri Indonesia, Dari Ritus Islam ke Tradisi Peradaban Nasional

22 Maret 2026 - 17:28 WIB

Proses Seleksi Dirut Bank Kaltimtara Diharapkan Berjalan Transparan dan Profesional

12 Februari 2026 - 19:19 WIB

Benarkah Mencabut Uban Mengakibatkan Bertambah Banyak? Ini Faktanya

7 Juli 2025 - 11:54 WIB

Benarkah Mencabut Uban Mengakibatkan Bertambah Banyak? Ini Faktanya

Mengapa Malam Minggu Spesial?

17 Mei 2025 - 22:00 WIB

Mendadak “Peduli” UMKM

14 Mei 2025 - 16:10 WIB

Trending di ARTIKEL