Riceknews.id – Warga Murung Mesjid RT 01 RW 01, Kelurahan Murung Keraton, Martapura, Kabupaten Banjar, mengubah bantuan logistik banjir dari Pemerintah Kabupaten Banjar menjadi bubur, Senin (3/2/2025) sore.
Hal ini dilakukan agar bantuan tersebut dapat mencukupi kebutuhan seluruh warga korban banjir.
Sambil berendam di air yang masih menggenangi rumah mereka, warga terlihat bergotong royong mengaduk bubur panas di dalam kawah besar. Kayu bakar dan arang menjadi bahan bakar untuk memasak bubur tersebut.
“Kami sulap bantuan logistik menjadi bubur agar cukup dibagikan ke masyarakat,” ujar Abdul Basit (32), salah satu warga yang ikut memasak bubur.
Bebeng, sapaan akrab Abdul Basit, menceritakan bahwa banjir yang melanda wilayah mereka sudah berlangsung selama satu bulan. Luapan air Sungai Martapura menyebabkan rumah-rumah warga terendam.
“Sudah satu bulan kami terdampak banjir. Tiga hari ini air mulai surut, sekitar 20-30 sentimeter setiap harinya,” tutur Bebeng.
Menurutnya, sebagian besar warga terpaksa mengungsi karena tempat tinggal mereka berada di dataran rendah, dekat dengan sungai.
“Di sini ada 350 jiwa yang terdampak banjir. Kebanyakan bekerja sebagai pengrajin tasbih. Karena banjir, mereka tidak bisa bekerja,” jelasnya.
Bebeng menambahkan bahwa para pengrajin tasbih tersebut biasanya mendapatkan upah harian sebesar Rp 100 ribu per kilogram tasbih yang mereka buat. Namun, selama banjir mereka tidak dapat bekerja.
Warga lainnya, Muhammad Robbani, menjelaskan alasan mengapa mereka memilih untuk membuat bubur dari bantuan logistik yang ada.
“Kami menerima beras 25 liter. Kalau dibagikan begitu saja tidak akan cukup. Jadi kami masak bubur dengan 5 liter beras setiap harinya,” kata Robbani.
Mereka memasak bubur selama tiga jam secara bergantian. Meski harus berendam di air banjir, mereka tetap semangat memasak demi memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
“Logistik yang kami terima berupa beras, telur, dan mie instan. Untuk bahan pelengkap bubur, kami swadaya. Kayu bakar dan arang juga sisa dari acara Haul Abah Guru Sekumpul,” timpal Robbani (24).
Lurah Murung Keraton, Johansyah, yang hadir di lokasi, menjelaskan bahwa bantuan logistik tersebut mereka terima pada hari Jumat (1/2) dari Pemkab Banjar.
“Kami dapat bantuan dari Pendopo (Dapur Umum Mahligai Sultan Adam) berupa 10 karung beras, 10 dus mie, dan 10 rak telur,” terang Johansyah.
Johansyah menambahkan bahwa pembagian bantuan logistik diserahkan kepada masing-masing ketua RT dan RW untuk disesuaikan dengan jumlah warga yang terdampak banjir.
Setelah tiga jam memasak, bubur akhirnya matang dan siap dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
“Masyarakat kami memasak bubur karena logistiknya kurang,” pungkasnya sambil tersenyum.
Beberapa titik banjir di Kabupaten Banjar memang sudah mulai surut. Namun, penanganan banjir oleh Pemkab Banjar dinilai terlambat karena terkendala birokrasi dan administrasi.
Saat ini, mereka masih menggunakan sisa anggaran tahun 2024, sementara anggaran tahun 2025 belum cair.
Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

