Baru tiga hari beroperasi sejak 1 September tadi, angkutan massal Buy The Service (BTS) Banjarbakula atau sering disebut warga Bus Tayo itu mendapat protes oleh para sopir angkutan kota (Angkot) di Martapura, Kabupaten Banjar, selasa (3/9/2024).
Pagi sekitar pukul 09:13 Wita, dua bus tayo yang ingin menjemput para calon penumpang di Jalan A Yani simpang tiga pasar Martapura, langsung digeruduk para sopir angkutan. Jumlahnya tidak kurang dari 100 sopir.
“Kami ingin bus tayo ini dihentikan. Sudah cari makan susah, mencari penumpang juga susah,” teriak salah satu sopir angkutan taksi kepada sopir bus tayo.
Singkatnya, sopir bus dipaksa balik kanan, calon penumpang terlantar. Salah satu sopir angkutan, Fahrul Rozi, pihaknya mencegat dengan tujuan perwakilan bus menghadap kepala Organisasi Angkatan Darat (Organda).
“Kami saat ini mencegat biasa saja, tidak anarkis,” ucap Fahrul Rozi.
Usai aksi pencegatan, para sopir angkutan umum itu mendatangi kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banjar secara ramai – ramai.
Pukul 09:32 Wita, para sopir sudah sampai di depan kantor Dishub Banjar. Dari daftar hadir yang dikumpulkan pihak Dishub, jumlahnya 103 orang sopir.
Kadishub Banjar I Gusti Nyoman Yudiana bersama perwakilan Dishub Provinsi Kalsel rupanya sudah siap menghadapi para sopir.
Pihak Dishub meminta perwakilan sopir untuk berdialog di dalam ruangan. Total 13 sopir yang masuk.
Kadishub Tawarkan Solusi
Dalam dialog itu, Nyoman memberikan solusi yakni mengusulkan agar para sopir angkot akan dijadikan sebagai Feeder.
Feeder berfungsi sebagai penjemput penumpang di lokasi tertentu dan membawa ke titik transit tempat melanjutkan perjalanan dengan layanan bus utama.
“Feeder ini akan membantu bus tayo yang beraktivitas di Jalan Ahmad Yani,” ucap Nyoman.
Nyoman bilang, pihaknya telah menyediakan dua trayek atau rute agar para sopir menjadi Feeder untuk mengantarkan penumpang ke halte bus tayo.
Dua trayek dimaksud, trayek pertama dari Bincau, Indrasari, Sekumpul, Pusat Pertokoan Sekumpul (PPS) dan Pasar Batuah.
Trayek kedua, dari Darul Hijrah, Sungai Sipai, Jalan Veteran, PPS, dan Pasar Batuah. “Dua trayek ini akan menjadi bolak – balik,” kata Nyoman.
Nyoman juga bilang, jika masyarakat menginginkan rute di manapun, pihaknya akan membantu untuk memasukan trayek di sana.
Agar para sopir angkutan ini mendapat suntikan dana dari pemerintah, Nyoman meminta para sopir angkutan ini harus dikelola dan badan hukum.
“Anggarannya tersedia Rp160 juta. Kami berharap para sopir taksi membuat koperasi dan organisasi. Sehingga bantuan ini bisa disalurkan,” jelasnya.
Nyoman mengingatkan, hampir sebagian besar mobil angkutan saat ini tidak memenuhi persyaratan untuk layak jalan. Seperti STNK dan uji kelayakan kendaraan (KIR) yang mati.
“Pemerintah ingin juga menciptakan angkutan yang aman dan nyaman. Maka dari itu diharapkan agar sopir secepatnya dapat membuat KIR, hal ini juga dapat membantu kami dalam memverifikasi mobil angkutan yang layak untuk masyarakat,” imbaunya.
Meski sudah diberikan solusi, para sopir tetap bersikeras agar pelayanan bus tayo harus dihentikan sementara.
Perwakilan sopir, Kasmili, mengatakan tidak menolak bus tayo, karena merupakan perkembangan zaman. Hanya saja ingin memastikan agar program oleh pemerintah benar – benar dijalankan dengan baik dan sesuai target.
“Setelah tadi berembuk, kami ingin bus ini harus disetop sementara sampai sopir kami sejahtera,” kata Kasmili.
Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra Lianor

