Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

EKOBIS · 16 Sep 2025 18:46 WIB

Pemkab Banjar Klaim Pertumbuhan Ekonomi Meningkat Meski Lambat, Apa Sebabnya?


 Foto: Thithawat_s/istockphoto.com Perbesar

Foto: Thithawat_s/istockphoto.com

Martapura, Ricek.id – Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) diklaim mengalami peningkatan dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada beberapa tahun terakhir, meskipun belakangan melambat.

Data dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) setempat mencatat, per Agustus 2024, PDRB ADHB mencapai Rp40.027.390 juta/kapita atau Rp3.335.615 juta/perkapita tiap bulannya.

Kepala Bappedalitbang banjar, Nashrullah Shadiq, mengatakan
angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun laju pertumbuhannya sempat melambat.

Pemkab Banjar mengklaim pertumbuhan ekonomi meningkat meski lambat.
Pemkab Banjar mengklaim pertumbuhan ekonomi meningkat meski lambat.

Ia merincikan, pada 2021 pertumbuhn ekonomi tercatat Rp31,30 juta, kemudian pada 2022 naik menjadi Rp36,18 juta meskipun dihantam badai pandemi Covid-19.

“Namun pertumbuhan ekonomi sempat melambat akibat proses recovery ke pasca-pandemi pada 2023 Rp38,26 juta,” kata Nashrullah.

“Dan rata-rata pertumbuhan kembali normal hingga menghasilkan Rp40,02 juta pada 2024. Fenomena ini masih normal,” imbuhnya.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Banjar juga mencatat penurunan serupa. LPE yang sempat mencapai 4,48% pada 2022, turun menjadi 4,35% di tahun 2023, sebelum akhirnya kembali naik ke angka 4,78% pada 2024.

Selain faktor pemulihan ekonomi, Nashrullah menambahkan bahwa PDRB ADHB Kabupaten Banjar sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan.

“Karena Kabupaten Banjar masih sangat bergantung pada hasil pertambangan. Beberapa tahun sebelumnya, situasi global tidak stabil akibat perang Rusia-Ukraina, yang berdampak pada perubahan harga komoditas tambang di daerah,” pungkasnya.

Sebagai informasi, PDRB ADHB adalah nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu daerah dalam setahun, dibagi dengan jumlah penduduk. Angka ini merupakan indikator ekonomi untuk mengukur tingkat kesejahteraan, bukan pendapatan nyata setiap individu.

Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra Lianor

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Polres Banjar Tangkap Pelaku Pembunuhan di Pengaron Tiga Pekan Setelah Kejadian

22 Juni 2026 - 16:11 WIB

Kemenhub RI Berikan Diskon Tarif Transportasi Selama Libur Sekolah 2026

21 Juni 2026 - 20:32 WIB

Indonesia Siapkan Cadangan Pangan & Infrastruktur Pertanian Nasional Hadapi El Nino Godzilla

20 Juni 2026 - 20:13 WIB

Kapitalisasi Rp1.100 Triliun, Presiden Prabowo Tegaskan Himbara sebagai Motor Ekonomi Nasional

20 Juni 2026 - 20:10 WIB

Jaga Kepercayaan Investor, Pemerintah Perkuat Transparansi & Integritas Pasar Modal

19 Juni 2026 - 19:39 WIB

Indonesia Jadikan Bioetanol Sebagai Kunci Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global

19 Juni 2026 - 19:37 WIB

Trending di EKOBIS