Riceknews.Id – Wakil Ketua DPRD Banjar, Akhmad Rizanie Anshari, mengigatkan Dirut PT Baramarta, Saidan Pahmi, agar fokus perbaikan perusahaan tanpa perlu berkoar soal dividen.
“Jangan bicara dividen dulu sebelum dapat melunasi utang pajak yang jumlahnya mencapai Rp200 miliar itu,” ujar Rizanie.
Ia mengutarakan, melihat kondisi perusahaan milik daerah saat ini, sangsi utang pajak ratusan miliar itu dapat dilunasi meskipun sampai berganti pimpinan.
Menurutnya, Saidan Pahmi lebih baik fokus melunasi pajak, serta pembenahan perusahaan dan efesiensi anggaran, ketimbang bicara dividen.
“Lakukan efesiensi, kalau perlu tidak usah kasih bantuan proposal yang masuk maupun CSR yang tidak ada manfaatnya untuk daerah secara langsung,” tegas Rizanie.
Ia menambahkan, DPRD Banjar akan selalu mengawasi agar perusahaan ini berjalan sesuai arah yang benar. Tidak lagi ada masalah seperti yang sebelumnya.
Saidan optimis PT Baramarta berikan dividen

Sebelumnya, Dirut PT Baramarta Saidan Pahmi berujar ingin menjadikan BUMD di bidang batu bara ini sebagai tulang punggung pendapatan daerah Kabupaten Banjar.
“Saya optimis nanti perusahaan ini dapat memberikan dividen,” ucap Saidan tanpa merincikan, beberapa waktu lalu kepada wartawan.
Meski demikian, Saidan menyadari ada tantangan berat yang dihadapi. Utamanya tunggakan pajak sebesar Rp200 Miliar dan dana cadangan Rp15 Miliar akibat penolakan banding hingga PK di Mahkamah Agung. Selain itu, terdapat pula beban PNBP IPPKH sebesar Rp24 Miliar yang tidak dibayarkan oleh kontraktor sebelumnya.
“Tingginya beban yang ditanggung, bukan berati PT Baramarta tidak berikhtiar untuk memberikan dividen untuk daerah,” tutur Saidan.
Skenario bayar utang

Untuk mengatasi masalah ini, PT Baramarta di bawah kepemimpinan Saidan Pahmi akan menerapkan beberapa skenario pembayaran, termasuk mencadangkan sebagian pendapatan produksi dari PT Madhani Talatah Nusantara (MTN) sebesar Rp20.000 per metrik ton dan kontrak baru lainnya.
Juga berencana mencicil tunggakan pajak serta menaikkan margin produksi sekitar Rp80.000 per meter (dengan penyesuaian berdasarkan Stripping Ratio dan topografi).
“Kenaikan margin sebenarnya bervariasi karena tergantung Stripping Ratio (SR), dan topografinya. Sebab, semakin tinggi rasio pengupasan, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan,” tuturnya.
Saat ini, PT Baramarta memiliki lima kontraktor yang melakukan eksploitasi batubara, yakni PT Tarungin Membangun, PT Plaosan Jaya Mandiri, PT Harapan Rahmat Mulia, PT GDH Korporindo Utama, dan PT MTN.
“Konsep BUMD yang dibentuk berupa PT. Artinya berorientasi pada profit. Pendapatan PT Baramarta hanya dipengaruhi dua hal: jumlah produksi dan harga jual. Saat ini harga jual sedang anjlok, sehingga harus dilakukan melakukan efisiensi,” ungkap Saidan.

