Banjarmasin, Ricek.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya Kalsel menggelar Dialog Wayang Kulit Banjar di Banjarmasin, Selasa (25/11/2025). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia sekaligus sebagai upaya mempromosikan dan melestarikan kesenian asli Banua.
Dialog tersebut bertujuan meningkatkan wawasan, kualitas penampilan, dan kepercayaan diri para dalang muda di Kalsel. Acara ini diikuti oleh sejumlah grup kesenian wayang kulit Banjar dari tujuh kabupaten/kota di Kalsel serta mahasiswa Seni Pertunjukan ULM Banjarmasin.
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, melalui Kepala Seksi Promosi dan Dokumentasi UPTD Taman Budaya, Nitta Aulia, mengatakan kehadiran akademisi dan pakar diharapkan dapat memantik semangat generasi muda.
“Kami ingin meningkatkan kualitas para dalang Kalsel. Kami juga berharap dialog ini menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap kesenian wayang kulit Banjar,” kata Nitta.
Pakar Dorong Wayang Banjar Terapkan Teknologi Modern
Dialog ini menghadirkan tiga narasumber utama: Analis Wayang asal DI Yogyakarta Ki Udreka, dalang sekaligus pengrajin Wayang Kulit Banjar Taufik Rahmad Hidayat, serta akademisi ULM Banjarmasin Sulisno.
Ki Udreka menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara wayang kulit Jawa dan wayang kulit Banjar, terutama pada bentuk fisik, ukuran, dan karakter yang kemudian memengaruhi teknik pementasan.
Ia juga mendorong pemerintah daerah agar lebih memperhatikan perkembangan kesenian ini, termasuk dengan mengadopsi teknologi modern.
“Di Yogyakarta, pertunjukan wayang sudah berkembang menggunakan teknologi modern seperti lampu dan perangkat pertunjukan lainnya. Saya berharap pemerintah di daerah juga memberi perhatian agar wayang Banjar dapat terus berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, dalang Taufik Rahmad Hidayat menekankan pentingnya pemahaman terhadap pakem cerita saat menampilkan Wayang Kulit Banjar, seperti kisah Ramayana dan Mahabharata.
“Pemahaman yang benar akan memengaruhi kualitas penampilan di panggung,” tegas Taufik.
Taufik berharap instansi terkait di kabupaten/kota dapat melanjutkan inisiatif pengenalan wayang kulit Banjar, bahkan jika memungkinkan, memasukkannya ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Nitta Aulia berharap kolaborasi antar grup kesenian wayang di Banua semakin kuat, dan para dalang muda termotivasi untuk mengembangkan diri hingga mampu tampil ke luar daerah.

