Martapura, Ricek.ID – Dewan Kesenian Kabupaten Banjar resmi menerima dana hibah sebesar Rp226 juta dari pemerintah daerah. Ini merupakan hibah pertama bagi Dewan Kesenian Banjar setelah terbentuk kembali pada akhir 2024 lalu.
Hal ini diungkapkan saat kegiatan Silaturrahmi Seniman dan Budayawan sekaligus buka puasa bersama yang digelar Dewan Kesenian Banjar, di Guest House Sultan Sulaiman, Martapura, Selasa (3/3/2026) sore.
Ketua Umum Dewan Kesenian Banjar, Rahmat Saleh, menjelaskan bahwa dana tersebut telah didistribusikan kepada 14 komite bidang (kombid). Masing-masing bidang mendapatkan alokasi rata-rata Rp15 juta hingga Rp17 juta untuk menjalankan program kerja.
“Seluruh kombid mendapatkan bagian. Meski nominalnya belum besar, alhamdulillah tetap bisa mendukung kegiatan seperti lomba madihin, tari, dan seni tradisional lainnya,” ujar Rahmat di hadapan para budayawan dan sejarawan yang hadir.
Selain operasional bidang, Rahmat menyebutkan sebanyak Rp68 juta dialokasikan untuk melengkapi sarana sekretariat yang berlokasi di belakang kantor Disporabudpar Banjar.
“Dana tersebut digunakan untuk pengadaan perangkat penunjang operasional serta rencana pengembangan podcast seni budaya,” tambahnya.
Meski kondisi aset dan anggaran saat ini masih terbatas, Rahmat optimistis organisasi akan terus berkembang. Pihaknya tengah menjajaki peluang kerja sama dengan sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
Transformasi Menuju Dewan Kebudayaan
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar, Irwan Jaya, mengungkapkan rencana peningkatan status lembaga tersebut menjadi Dewan Kebudayaan, sesuai amanah undang-undang.
“Secara regulasi, ruang lingkup kebudayaan jauh lebih luas. Tidak hanya kesenian, tetapi juga mencakup kuliner khas hingga kerajinan tradisional yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat,” jelas Irwan.
Irwan juga menekankan pentingnya strategi storytelling (pendekatan narasi) dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah.
Menurutnya, potensi budaya Banjar akan lebih menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda serta wisatawan jika dikemas dengan narasi yang kuat.
“Storytelling itu instrumen kami untuk mengemas budaya agar lebih menjual. Banyak potensi Banjar yang bisa kita angkat melalui narasi yang tepat,” pungkasnya.
Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

