Kabupaten Banjar, Ricek.ID – Ikan papuyu atau yang dikenal juga sebagai ikan betok merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar bernilai ekonomi tinggi di Kabupaten Banjar. Saat ini, komoditas tersebut mulai dikembangkan sebagai model ekonomi komunal berbasis desa melalui program budidaya yang melibatkan kelompok masyarakat.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menyampaikan bahwa ikan papuyu merupakan spesies endemik rawa yang memiliki potensi strategis dalam sektor perikanan daerah.
“Ikan papuyu memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Di pasaran, harganya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp100.000 per kilogram, tergantung kualitasnya,” ujarnya.
Perbedaan Harga Berdasarkan Kualitas
Bandi menjelaskan bahwa harga ikan papuyu ditentukan berdasarkan grade atau ukuran. Untuk grade A, harga dapat mencapai Rp90.000 hingga di atas Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, grade B berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram, dan grade C dijual sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Perbedaan harga ini mendorong perlunya diversifikasi produk olahan agar ikan dengan kualitas lebih rendah tetap memiliki nilai tambah di pasaran.

Sentra Produksi Benih dan Tingginya Permintaan
Kabupaten Banjar kini menjadi salah satu sentra produksi benih papuyu di Kalimantan Selatan dengan produksi tahunan mencapai 200 ribu hingga 300 ribu ekor.
“Benih papuyu tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dikirim ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Batam dan Kepulauan Riau,” jelasnya.
Permintaan pasar terhadap ikan papuyu masih sangat tinggi, baik untuk benih maupun konsumsi. Namun, kebutuhan konsumsi saat ini masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam.
Pengembangan Program Kampung Papuyu
Untuk meningkatkan produksi, pemerintah daerah telah mengembangkan program Kampung Papuyu sejak 2023. Program ini kemudian diperluas pada 2024 melalui Gerakan Pengembangan Kawasan Kampung Papuyu (Gerbang Kakapayu) berbasis kelompok pembudidaya.
Selanjutnya, pada 2025 dikembangkan inovasi Intan Sikapayu yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dinas terkait, hingga sektor swasta dan masyarakat.

Diversifikasi Produk dan Hilirisasi
Dalam program Intan Sikapayu, tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga pada hilirisasi melalui pelatihan pengolahan produk. Salah satu hasilnya adalah produk olahan “Samu Modern” dengan varian rasa original, ketumbar, dan pedas.
Diversifikasi ini bertujuan meningkatkan nilai jual ikan papuyu, terutama untuk grade rendah, sehingga memberikan keuntungan lebih bagi pembudidaya.
Peningkatan Produksi Budidaya
Dari sisi produksi, budidaya papuyu menunjukkan perkembangan positif. Jika sebelumnya dari 20 ribu benih hanya menghasilkan sekitar 1 ton, pada tahun 2024 produksinya meningkat menjadi 1,49 ton dan pada siklus berikutnya mencapai sekitar 1,6 ton.
Dengan masa pemeliharaan sekitar enam bulan, pembudidaya dapat melakukan dua kali panen dalam setahun.

Pendampingan dan Pelatihan Pembudidaya
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan intensif oleh dinas bersama penyuluh perikanan. Melalui program sekolah lapang, pembudidaya diberikan pelatihan mulai dari teknik budidaya, pemijahan, hingga pemasaran dan branding produk.
Antisipasi Banjir dan Inovasi Teknologi
Pemerintah daerah juga melakukan langkah antisipasi terhadap potensi banjir, seperti pemasangan jaring pengaman pada kolam untuk mencegah ikan terlepas.
Selain itu, uji coba penggunaan kolam bundar semi-teknologi mulai dilakukan sebagai alternatif budidaya yang lebih efisien dan ekonomis.

